Sunday, March 8, 2009

Bagaimana Memunculkan Header Tabel secara berulang pada Halaman Berikutnya

Anda tentu sudah biasa menyusun tabel seperti di bawah ini menggunakan aplikasi Wordnya Microsoft. Perhatikan sekali lagi...
Tabel 1 dan Tabel 2 sama-sama disusun dengan menu Table – Insert – Table dengan 5 kolom dan 8 baris. Tabel telah diisi dan dimodifikasi sedemikian rupa sehingga tampil seperti pada gambar.

Yang membedakan adalah pada Tabel 1, Header tabel tidak ditampilkan saat perpindahan lembar halaman. Sementara pada Tabel 2, ada perulangan penulisan header tabel pada pergantian halaman.


Berikut adalah langkah pengaturan, agar header tabel dapat ditulis ulang secara otomatis pada setiap pergantian lembar halaman :
1. Blok Header Tabel
2. Buka menu Table – Table Properties



3. Setelah muncul Table Properties Dialog pilihlah (klik) Tab Row, aktifkan (klik) Repeat as header row at the top of each page

4. Klik OK

Semoga bermanfaat.



Wednesday, April 16, 2008

Jiwa Pelayanan Seorang Pimpinan

Sepertinya berbagai cobaan tak kunjung berakhir di negeri ini. Belum juga terhapus dalam ingatan kita, berbagai bencana alam melanda. Kini semakin ditambah dengan berbagai krisis di mana-mana. Baik krisis sandang, pangan, kesehatan, kenyamanan hingga krisis pimpinan.

Ironis, mungkin begitu kalimat yang biasa kita dengar sekarang. Untuk menggambarkan keadaan para pimpinan di negeri ini. Dikala sebagian rakyat semakin membutuhkan dukungan untuk sekedar bertahan hidup, sebagian pimpinan malah mengambil kesempatan untuk melupakan segala hal yang dulu pernah dijanjikan. Janji sebelum menuju puncak kepemimpinan mungkin telah terbiasa dilupakan di negeri yang dahulu telah merdeka ini.

Disadari atau tidak hukum rimba mulai menggantikan hukum nasional kita. Kita telah terbiasa untuk menumbuhkan rasa ingin menguasai, ingin memiliki. Sehingga saat merasa kuat tak ada salahnya kan menindas yang lemah, saat merasa berkuasa sudah wajar kan apabila bisa memenuhi segala keinginan kita. Tak begitu penting bagaimana cara mendapatkan semua keinginan itu. Itu yang telah biasa menghiasai kehidupan kita. Dan jika berbicara masalah menang – kalah, yang “kuat” akan menang.


Bisa dibayangkan bagaimana nasib bangsa ini apabila sifat demikian yang terus dibawa oleh para pimpinan. Begitu indahnya anugerah sebagai pimpinan itu sehingga kita juga lupa untuk apa gelar itu diberikan. Para petinggi negara yang semestinya mengayomi seluruh isi bangsa untuk kemakmuran bersama, saat ini lebih mementingkan kepentingan pribadinya di atas segalanya. Aji mumpung mungkin telah membudaya. Mumpung kaya, mumpung berkuasa, dan mumpung bisa, bangunlah kerajaan sendiri. Dan membangun kerajaan di atas penderitaan orang lain kadang benar-benar terjadi. Lalu masih pantaskah membeli mobil mewah jika garasi rumah telah terpenuhi sampah sisa banjir, masih pantaskah mendebatkan anggaran senilai 21 juta rupiah yang tetap “raib” jika lumpur di Sidoarjo masih juga memakan rumah dan lahan rakyat banyak. Tak terpikirkankah dimana penerus kita akan tinggal jika pulau atau mungkin negeri ini semakin terbenam lumpur-lumpur kerakusan. Ataukah kita akan tetap berjalan dengan roda-roda kesombongan ??

Lebih ironis lagi, sepertinya kekerasan telah membudaya di negeri ini. Tonton saja, stasiun televisi mana yang tidak gemar menayangkan acara-acara kekerasan dengan intensitas yang tinggi. Mulai dari sinetron, film, berita kriminal, hingga kajian rohani sekalipun tak lepas dari tayangan kekerasan.
Kekerasan, dikemas seindah apapun tetap aja kekerasan !

Terbukti bahwa melalui media paling efektif ini, kekerasan menjadi number one di negeri ini. Anak-anak telah terdidik menjadi ahli smack down semenjak dini, dan apa yang terjadi saat penerus negeri ini telah menjadi ahli kekerasan?

Tidak pernahkah terpikir memanfaatkan media super efektif itu untuk menayangkan kajian ilmu-ilmu pengetahuan dengan intensitas yang sama? Walaupun mungkin tidak mendapat iklan.

Hawa kekerasan juga kadang muncul di dunia pendidikan kita. Semenjak pendidikan di tingkat pertama saja, kebiasaan orientasi siswa terkadang tidak lepas dari kekerasan dan ajang kesombongan atasan terhadap bawahan. Ajang yang harusnya bisa mengolah mental seseorang menjadi kuat berubah menjadi media penyimpan dendam untuk junior lain di tahun mendatang. Senioritas – junioritas dalam arti master – slave telah menjadi sesuatu hal yang biasa. Banyak kejadian sia-sia hanya karena masalah atasan-bawahan. Mulai dari “korban” OSPEK, atau MOS yang kadang terjadi hingga kasus IPDN yang kembali terjadi.

Padahal kalau kita mau jujur seorang junior belum tentu lebih “bodoh” dibandingkan senior. Senior belum tentu lebih tidak salah daripada junior. Yang pasti senior ada karena junior. Namun mata kita memang terbutakan, dan menyatakan bahwa yang tinggi tentu lebih hebat daripada yang di bawah ! Pernahkah terpikirkan, pesawat terhebat saat inipun masih membutuhkan roda untuk mendarat. Roda memang tidak dibutuhkan saat terbang, namun pesawat tak akan terbang selamanya kan?
Bukankah saling menghormati akan jauh lebih beradab ketimbang menguasai.

Lalu dengan pola pendidikan mental demikian, bagaimana nasib negeri ini selanjutnya?
Akankah kursi-kursi para pengayom kita berubah menjadi ring tinju, dengan rakyat-rakyat kelaparan menjadi penontonnya??

Mungkin kita memang belum terbiasa menghiasi hidup dengan keserhanaan atau ketulusan (bhakti) dalam segala kewajiban kita, dan lebih terbiasa menuntut dan mengumpulkan hak tanpa memenuhi kewajiban. Bukankah hal ini begitu berbahaya jika menjadi sifat seorang pimpinan.

Mungkin saat ini kita harus lebih mencoba memahami orang lain dan tidak memaksakan diri. Bukankah veda mengajarkan bahwa sesungguhnya pimpinan sejati adalah seorang pelayan? Seorang pelayan, bagaimanapun dia jelas lebih dirindukan, lebih dibutuhkan oleh orang-orang sekelilingnya. Membangun jiwa pelayanan dalam diri mungkin salah satu solusi untuk mempersiapkan diri membangun negeri ini.

Saya jadi teringat sebentuk isi Dharma Wacana di sebuah Pura, yang waktu itu kalah semarak dengan senda gurau kita.

Berhati-hatilah dengan pikiran…
Segala pikiran kita, mempengaruhi ucapan dan tindakan.
Segala tindakan membentuk kebiasaan.
Kebiasaan menjadi karakter dan sifat kita.
Segala karakter dan sifat membentuk keberuntungan
Dan keberuntungan kita menentukan masa depan.
Jadi berhati-hatilah !

Masa depan bangsa ini terbentuk dari pola pikir, ucapan dan tindakan para pemimpin dan generasi penerusnya. Bukankah keinginan berkuasa dari para pemimpinnya telah terbukti menghempaskan dan menghancurkan masa depan berbagai bangsa? Tidakkah kita belajar dari sejarah masa lalu? Seperti pesan seorang Svami Vivekananda jika kita harus mencari jiwa sejati untuk bangsa ini, maka kita harus menyelam dan minum ke dalam sumber air masa lalu yang kita miliki dan melangkah membangun masa depan.

Menjadi pimpinan bukan berarti menguasai segala lini untuk kepuasan diri. Menjadi pimpinan hakekatnya adalah pembimbing sekaligus pelayan dan tumpuan bagi para pengikut untuk bersama menjaga dan mengembangkan peradaban.

Semoga keindahan dan kecerdasan ilmu pengetahuan, menuntun masa depan para pemimpin, bangsa dan kita bersama.

Monday, March 17, 2008

Melangkah dan Mengalir dalam Perjalanan Waktu

Hidup adalah perjalanan. Demikian salah satu intisari Bhagavadgita yang tanpa kita sadari telah menjadi sesuatu yang terlupakan. Laksana butiran air, di manapun pada awalnya, yang selalu mengalir atau mencari jalan untuk melanjutkan langkah dan pada akhirnya sampai ke samudera, seperti itu pulalah seharusnya kita memaknai perjalanan hidup ini.

Saya tak pernah ragu dan selalu teringat kalimat dari seorang guru, bahwa hinduisme berasal dari kata indus, sebuah dataran di negeri India. Indus bisa berarti air. Ya air, bentuk sederhana namun penuh misteri. Sesuatu yang kadang tak kita acuhkan namun syarat dengan makna kehidupan. Menjadilah “air” dan kita bisa menghadapi kehidupan seperti apapun. Menjadilah “air” dan kita dapat bergaul atau memahami siapapun.

Bukankah sebagian besar tubuh kita terbentuk dan terisi atas unsur air, sehingga semestinya sifat airlah yang paling dominan dalam diri kita. Pahamilah air, dan kita akan menemukan makna perjalanan hidup ini. Begitu menarik mengamati dan ikut merasakan perjalanan air. Seperti layaknya kita, air mencoba menemukan esensi diri sebelum pada masanya bersatu lagi di samudera dan atau kembali lagi dalam perjalanan baru. Siklus air identik dengan siklus kehidupan.


Bayangkan saja setetes embun yang jatuh ke tanah, terserap dan suatu ketika diserap kembali oleh tanaman atau langsung menguap ke angkasa. Atau dari hijaunya hutan, padang rumput, danau, bahkan gurun pasir sekalipun. Dengan berbagai cara dan kemungkinan air akan menguap ke angkasa, membentuk awan dan suatu ketika jatuh sebagai hujan, kembali ke tanah untuk memulai kembali perjalanan identik namun tak pernah sama.

Air melakukan perjalanan panjang mengikuti sungai, celah tanah, terbawa benda atau makhluk lain. Air Mendapatkan berbagai pengalaman dalam masa perjalanannya, mulai dari sungai yang bening atau keruhnya banjir. Indahnya danau atau pekatnya lumpur. Kadangkala bercampur dengan wangi bunga atau tumpukan sampah sekalipun, semua itu adalah pengalaman berharga bagi air. Hingga pada akhirnya perjalanan berhenti di samudera raya.

Benarkah siklus itu berhenti ?
Tidak, seperti siklus hidup kita, air bisa saja kembali menguap ke angkasa dan memulai lagi perjalanan panjangnya.

Pernahkah kita mencoba memahami perjalanan hidup kita selayaknya perjalanan air. Demikian jelasnya, demikian dekatnya dengan kita sehingga kita tak pernah melihat bukan? Apalagi memahami.

Kadangkala kita bagaikan air yang lebih suka pamer gelas penampung kita, mendebatkan dan mencari bukti-bukti kuat akan keindahan gelas yang sesungguhnya rapuh. Kita seperti air yang terjebak dalam kaleng softdrink atau botol anggur termahal dan saling menertawakan satu dengan yang lain. Padahal kita belum pernah mengalir, padahal kita belum memulai perjalanan dengan benar !

Keegoan kita dari waktu ke waktu telah mengaburkan makna sebuah perjalanan. Kita lebih teringat dengan apa kita akan berjalan dan melupakan tujuan utama dari perjalanan. Kita lebih gemar mendebatkan kehebatan kendaraan kita masing-masing tanpa mengetahui untuk apa kendaraan itu ada. Waktu kita semakin terbuang dengan keinginan memalukan, keinginan untuk berkuasa, menyalahkan orang lain, memperbudak atau mengemas indah berbagai bentuk hawa nafsu, membela tuhannya masing-masing, keinginan menyucikan atau disucikan orang lain atau apalah namanya.

Ya, kita lebih suka melancong, shoping, saling menyombongkan diri serta bertukar iri dengki dalam perjalanan dan melupakan untuk apa sebenarnya perjalanan ini.

Kita lupa bahwa seperti halnya air, kita harus berjalan, mencari dan mengalir hingga pada akhirnya sampai ke samudera raya. Kita lupa bahwa kita ini sama. Mau dibilang apa, bukankah sekotor-kotornya air adalah tetap air. Sebening-beningnya air juga tetap air.

Lalu kenapa kita masih bangga menyebut bahwa kita adalah anggur termahal di dunia, sementara kita hanya terkurung dalam botol atau ruang bawah tanah dan tak bisa mengalir. Apa hebatnya bisa jadi termahal ? Kenapa kita bangga bahwa kita hidup dalam sebuah gelas kristal sementara kita hanya bisa menodai benda-benda yang kita sentuh dengan aroma memabukkan. Atau lebih buruk lagi kita adalah lumpur yang mencoba membersihkan lumpur lain. Tapi mungkin saya termasuk yang ini.

Tak pernahkah kita mencoba menjadi air sungai yang mengalir selaras dengan belaian alam, menyusuri jalur-jalur sungai yang penuh dengan tanaman-tanaman alami. Sehingga setiap waktu kita bisa menikmati sesuatu yang beragam, setiap saat bisa berintekasi dengan siapapun termasuk mungkin bertanya pada rumput yang bergoyang.

Tak tahukah kita bahkan sebuah ice cream saja mungkin berusaha untuk mencapai jalur itu. Begitu bahagianya sebuah ice cream yang bisa menyenangkan manusia pemangsanya, menjadi bagian tubuhnya, berubah menjadi keringat, menguap ke angkasa, menjadi hujan dan berdoa semoga dia bisa jatuh di sungai indah itu. Pernahkah kita berharap selayaknya ice cream. Coba dan rasakanlah !

Mungkinkah? Tentu saja, bukankah ice cream juga air. Air adalah “makhluk” bebas dengan komitmen tinggi. Air tak akan mengingkari janjinya untuk menuju samudera bagaimanapun caranya. Hinduisme mengajarkan kita kebebasan dengan komitmen tinggi, masihkah kita akan mengingkari janji untuk melanjutkan perjalanan kepada zat tertinggi yang di negeri ini kita sebut sebagai Hyang Widhi.

Mokshartam Jagadhita ya ca iti Dharma

Kebahagiaan tertinggi dan kebahagiaan dunia adalah inti dari segala dharma. Sudahkah kita mendapatkan semua itu, atau kita hanya terobsesi ? Bukankah semua langkah perjalanan yang terpapar di atas berakar pada tujuan ini ? Begitu bahagianya sang “air” melakukan perjalanan dalam rangkaian sungai, dan menikmati kebahagiaan tertinggi sampai di samudera.

Lalu bagaimana dengan kita ? Jika bahagia di dunia saja belun tentu, bagaimana mungkin kebahagiaan abadi kita raih ? Layaknya menaiki sebuah eskalator atau lift. Jika lantai 2 saja kita belum sampai, bagaimana mungkin kita sampai puncak gedung ?

Berbicara memang mudah, namun prakteknya belum tentu. Saya juga sadar semua itu, tapi yakinlah menulis juga tidak terlalu mudah.

Sudahlah, jadi sebenarnya apa yang harus dilakukan agar mendapatkan kebahagiaan ?

Pertama, kita terlalu banyak menentukan syarat untuk rasa bahagia itu. Yakinlah, seorang kaya belum tentu sebahagia manusia yang biasa-biasa saja. Bukankah bisa mendapatkan atau mewujudkan berbagai keinginan belum bisa menjadi ukuran kebahagiaan? Saat kita diterima masuk ke sebuah institusi/instansi untuk belajar atau bekerja, mungkin sesaat kita merasa "bahagia" dan tidak lupa beribu-ribu terimakasih kita tujukan pada-Nya, kalau perlu syukuran 2 hari 3 malam. Namun dalam kilatan waktu, kita segera terbebani dengan tugas-tugas yang memberatkan, PR yang menyedihkan, teman-teman yang membosankan dan tak lupa pula segera muncul keluhan dan ratapan kepada-Nya. Tenang saja, kadang saya juga demikian.

Tak pernahkah mencoba menghadapi perjalanan ini dengan cara menikmatinya? Air begitu menikmati segala langkah menuju samudera, dia selalu menikmati jadi apa dia sekarang. Tak peduli harus mengalir melewati timbunan sampah, melewati jalur limbah pabrik, bahkan saat terdampar sebagai sebentuk oase yang entah kapan bisa mengalir. Dia tetap saja tulus. Nikmatilah swadharma kita, dan berbahagialah !

Kedua, kebanyakan dari masalah kita muncul ketika kita "berkelahi" dengan alam. Kita terbiasa memperbudak alam dengan keinginan kita. Secara fisik dapat kita lihat kerusakan lingkungan karena penebangan liar, penumpukan sampah, atau penyebaran limbah. Sebagai air, kita sudah jarang sekali menemukan semak atau bunga indah di tepi sungai. Jangankan menemukan bunga, menemukan sungai sebagai jalur perjalanan kita saja sudah susah. Kita tak lagi tahu, apakah ini sungai atau bekas jalan-jalan raya kota. Bagaimana mungkin kita bisa menemukan samudera ? Berdoa, berharap dan mengalir saja.

Pernahkan kita merasa gelombang kedengkian kita jauh lebih tinggi ketimbang gelombang ketulusan dan rasa kasih. Tak percayakah anda bahwa gelombang frekuensi pikiran kita juga laksana air ? Bagaimanakah cara yang tepat untuk membuat air keruh dalam gelas menjadi jernih kembali. Ini bukan iklan air minum yang sering anda lihat di televisi, namun ini adalah inti ajaran Veda (baca: pengetahuan). Kita kalah ngetop duluan !

Cara yang bijaksana untuk membuat air keruh dalam gelas menjadi bening dan jernih kembali bukan dengan membuangnya dan mengisi kembali dengan air bersih. Jika itu anda lakukan pada pikiran anda biayanya jadi sangat mahal ! Anda tak mungkin membuang pikiran anda dan menginstall pikiran baru bukan ?

Jadi ? Kita tidak harus menginstall ulang pikiran kita, update saja !.

Tuangkanlah pelan-pelan air yang bersih pada gelas berisi air keruh, terus, terus dan terus menerus. Jangan tergesa kalau perlu buatlah irama…. Bersabarlah karena orang sabar disayang banyak orang dan pada saatnya nanti, kotoran akan terbuang dan air yang keruh berganti dengan air jernih.

Om anno badrah kratavo yantu visvatah
(Yang Maha Indah, semoga segala pikiran baik datang dari segala arah)

Adalah harapan dan doa indah yang selalu diucapkan saat kita membuka segala pustaka suci. Apakah anda melihat perbedaannya dengan konsep pembersihan air ?

Untuk membersihkan pikiran kotor kita adalah dengan menerima dan mengirimkan kembali pikiran yang baik ke segala arah. Kepada apapun, siapaun, kapanpun dan di manapun. Yakinlah langkah perbaikan moral dengan jalan ini akan jauh lebih bijaksana daripada menghancurkan rumah atau kantor orang lain yang mungkin dana pembangunannya belum lunas.

Bayangkan dalam sepanjang perjalanan hidup kita, kita luangkan barang satu detik saja, secara bersama-sama. Seluruh isi semesta ini mengirimkan dan menerima pikiran-pikiran berisi kebaikan, dan cinta kasih. Berapa rasa iri dengki bisa kita hapus, berapa dosa bisa kita tutup, dan berapa sahabat bisa kita tambahkan dalam rangkaian friendster kita.

Dalam jiwa yang bersih dan hening
segala derita, sengsara jadi sirna
Pikiran orang yg berjiwa bersih demikian
bersemayam teguh dalam ketenangan
(Bhagavadgita II.65)


Jika kita masih mengakui bahwa kita adalah alam semesta mini (mikrokosmos) yang tak bisa lepas dengan alam semesta raya (makrokosmos), langkah terbaik untuk melanjutkan perjalanan dalam dharma adalah menjadi selaras dengan alam. Pahamilah alam, dan alam akan memahami kita.

Seorang guru meninggalkan doa ini untukku.
Tuhan, Semoga segala pikiran yang baik datang dari segala penjuru, semoga tiada aral dalam segala langkahku, dan semoga segala arah menjadi sahabatku.

Kita tak pernah tahu masih sejauh mana samudera yang menjadi pelabuhan kita, jadi berjalan, sebarkan ketulusan dan kasih sayang, mengalir dan nikmatilah !


** Beberapa bagian tulisan disadur dari buku the life secret of water (:masaru emoto)

Monday, April 2, 2007

welcome !

hi, welcome to my blog. n joy !
Loading...